Kapitein Westerling

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Raymod Paul Pierre Westerling. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946 – Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan).

Tahap Pertama: Operasi militer

Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong dan pasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi diBatua dan Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di desa Batua.

Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat. Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.

Fase kedua dimulai, yaitu mencari “kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh”. Westerling sendiri yang memimpin aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama “pemberontak” yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling ini dikenal dengan nama “Standrecht” – pengadilan (dan eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.

Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa yang harus melindungi desa dari anasir-anasir “pemberontak, teroris dan perampok”. Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing. Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan tewasnya 44 rakyat desa.

Demikianlah “sweeping ala Westerling“. Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang.

Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, tiba giliran Kalukuang yang terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang dieksekusi.

Tahap kedua

Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar 150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan Ko’mara. Pasukan lain mengurung Polobangkeng. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.

Tahap ketiga

Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerjasama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.

Pemberlakuan keadaan darurat

Untuk lebih memberikan keleluasaan bagi Westerling, pada 6 Januari 1947 Jenderal Simon Spoor memberlakukan noodtoestand (keadaan darurat) untuk wilayah Sulawesi Selatan. Pembantaian rakyat dengan pola seperti yang telah dipraktekkan oleh pasukan khusus berjalan terus dan di banyak tempat, Westerling tidak hanya memimpin operasi, melainkan ikut menembak mati rakyat yang dituduh sebagai teroris, perampok atau pembunuh.

Pertengahan Januari 1947 sasarannya adalah pasar di Parepare dan dilanjutkan di MadelloAbbokongengPadakkalawa, satu desa tak dikenal,EnrekangTalabangiSoppengBarruMalimpung, dan Suppa.

Setelah itu, masih ada beberapa desa dan wilayah yang menjadi sasaran Pasukan Khusus DST tersebut, yaitu pada tanggal 7 dan 14 Februari di pesisir Tanete, pada tanggal 16 dan 17 Februari di desa Taraweang dan Bornong-Bornong. Kemudian juga di Mandar, di mana 364 orang penduduk tewas dibunuh. Pembantaian para “ekstremis” bereskalasi di KuloAmparita dan Maroangin di mana 171 penduduk dibunuh tanpa sedikit pun dikemukakan bukti kesalahan mereka atau alasan pembunuhan.

Selain itu, di aksi-aksi terakhir, tidak seluruhnya “teroris, perampok dan pembunuh” yang dibantai berdasarkan daftar yang mereka peroleh dari dinas intel, melainkan secara sembarangan orang-orang yang sebelumnya ada di tahanan atau penjara karena berbagai sebab, dibawa ke luar dan dikumpulkan bersama terdakwa lain untuk kemudian dibunuh.

H.C. Kavelaar, seorang wajib militer KNIL, adalah saksi mata pembantaian di alun-alun di Tanete, di mana sekitar 10 atau 15 penduduk dibunuh. Dia menyaksikan, bagaimana Westerling sendiri menembak mati beberapa orang dengan pistolnya, sedangkan lainnya diberondong oleh peleton DST dengan sten gun.

Di semua tempat, pengumpulan data mengenai orang-orang yang mendukung Republik, intel Belanda selalu dibantu oleh pribumi yang rela demi uang dan kedudukan. Pada aksi di Gowa, Belanda dibantu oleh seorang kepala desa, Hamzah, yang tetap setia kepada Belanda.

Peristiwa Galung Lombok

Peristiwa maut di Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Ini adalah peristiwa pembantaian Westerling, yang telah menelan korban jiwa terbesar di antara semua korban yang jatuh di daerah lain sebelumnya. Pada peristiwa itu, M. Joesoef Pabitjara Baroe (anggota Dewan Penasihat PRI) bersama dengan H. Ma’roef Imam Baroega, Soelaiman Kapala Baroega, Daaming Kapala Segeri, H. Nuhung Imam Segeri, H. Sanoesi, H. Dunda, H. Hadang, Muhamad Saleh, Sofyan, dan lain-lain, direbahkan di ujung bayonet dan menjadi sasaran peluru. Setelah itu, barulah menyusul adanya pembantaian serentak terhadap orang-orang yang tak berdosa yang turut digiring ke tempat tersebut.

Semua itu belum termasuk korban yang dibantai habis di tempat lain, seperti Abdul Jalil Daenan Salahuddin (kadi Sendana), Tambaru Pabicara Banggae, Atjo Benya Pabicara Pangali-ali, ketiganya anggota Dewan Penasihat PRI, Baharuddin Kapala Bianga (Ketua Majelis Pertahanan PRI), Dahlan Tjadang (Ketua Majelis Urusan Rumah Tangga PRI), dan masih banyak lagi. Ada pula yang diambil dari tangsi Majene waktu itu dan dibawa ke Galung Lombok lalu diakhiri hidupnya.

Sepuluh hari setelah terjadinya peristiwa yang lazim disebut Peristiwa Galung Lombok itu, menyusul penyergapan terhadap delapan orang pria dan wanita, yaitu Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A. Zawawi Yahya (Ketua Majelis Pendidikan PRI), Abdul Wahab Anas (Ketua Majelis Politik PRI), Abdul Rasyid Sulaiman (pegawai kejaksaan pro-RI), Anas (ayah kandung Abdul Wahab), Nur Daeng Pabeta (kepala Jawatan Perdagangan Dalam Negeri), Soeradi (anggota Dewan Pimpinan Pusat PRI), dan tujuh hari kemudian ditahan pula Ibu Siti Djohrah Halim (pimpinan Aisyah dan Muhammadiyah Cabang Mandar), yang pada masa PRI menjadi Ketua Majelis Kewanitaan.

Dua di antara mereka yang disiksa adalah Andi Tonran dan Abdul Wahab Anas. Sedangkan Soeradi tidak digiring ke tiang gantungan, melainkan disiksa secara bergantian oleh lima orang NICA, sampai menghebuskan napas terakhir di bawah saksi mata Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas.rg

Pasca operasi militer

Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.

Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret 1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita: “Pasukan si Turki kembali.” Berita pers Belanda sendiri yang kritis mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada bulan Juli 1947.

Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24 bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit parasutis. Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.

Korban

Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepadaDewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.

Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya “hanya” 600 orang.

Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.

Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional, karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak ada kadaluarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.

Si Jagal Raymon Westerling …..

Masyarakat Jawa Barat dan Divisi Siliwangi boleh jadi tidak bisa melupakan peristiwa ini. Pagi itu, 23 Januari 1950, tentara Belanda yang dipimpin Komandan Baret Hijau Kapten Raymon P.P. Westerling menggemparkan Kota Bandung. Pasukan tanpa atribut itu membabi buta menembaki anggota Divisi Siliwangi yang berada di jalan. Mayor Sutikno dan Mayor Sacharin ditembak di depan Hotel Savoy Homann. Letkol Adolf Lembong yang pagi itu akan menghadap Komandan Divisi Siliwangi Kolonel Sadikin di Gedung Stafkwartir yang terletak di Oudhospitalweg (kini Jalan Lembong) Nomor 38, tidak luput dari sasaran kekejaman algojo peristiwa pembantaian 40.000 penduduk Sulawesi Selatan itu. “Waktu itu, anggota Stafkwartir lainnya berusaha menyelamatkan diri lewat pintu belakang,” begitu salah satu kenangan yang disampaikan almarhum Letjen (Purn.) Dr. (HC) Mashudi.

Peristiwa itu mengakibatkan 79 anggota Divisi Siliwangi gugur. Dalam penyelidikan kepolisian pada awal 1955 menemukan setidaknya terdapat 15 prajurit lain, bahkan salah seorang di antaranya berpangkat kapten. Mereka dibawa lari ke hutan di kaki Gunung Tangkubanparahu di sebelah barat Lembang oleh sebagian pasukan APRA yang dipimpin Eddy Hoffman.

Si Penyendiri

Masa kecil Westerling tak banyak terungkap, sebagian besar rapat tertutup. Dalam stambuk tentara KNIL, namanya hanya tertera sebagai Kapten Westerling. Ia lahir di Istanbul, Turki, pada hari Minggu, 31 Agustus 1919. Orangtuanya adalah pasangan pedagang karpet. Ayahnya seorang Belanda, ibunya keturunan Yunani.

Ketika berusia 5 tahun, kedua orang tuanya meninggalkan Westerling. Anak tak bahagia itu lalu hidup di panti asuhan. Tempat itulah mungkin yang membentuk dirinya menjadi orang yang tidak bergantung dan terikat pada siapa pun.

Westerling yang sudah tertarik pada buku-buku perang sejak masih belia menemukan kesempatan untuk jadi tentara ketika Perang Dunia pecah. Desember 1940, ia datang ke Konsulat Belanda di Istanbul. Westerling menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ia diterima. Tapi untuk itu, sebelumnya ia harus bergabung dengan pasukan Australia.

Bersama kesatuannya, Westerling ikut angkat senjata di Mesir dan Palestina. Dua bulan kemudian ia dikirim ke Inggris dengan kapal. Di sini kesewenang-wenangannya mulai muncul. Ia menyelinap menuju Kanada, melaporkan diri ke Tangsi Ratu Juliana, di Sratford, Ontario. Di situlah ia belajar berbahasa Belanda.

Westerling lalu dikirim ke Inggris. Ia bergabung dalam Brigade Putri Irene. Di Skotlandia, ia memeroleh baret hijaunya. Ia juga mendapat didikan sebagai pasukan komando. Spesialisasinya adalah sabotase dan peledakan. Ia pun mendapat baret merah dari SAS (The Special Air Service), pasukan khusus Inggris yang terkenal. Dan yang membanggakannya, ia pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London, pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, dan menjadi instruktur pasukan Belanda—untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara. Tapi ia pun pernah dipekerjakan di dapur sebagai pengupas kentang.

Ternyata, hidup di barak bagi seorang Westerling menjemukan. Ia ingin mencium bau mesiu dan ramai pertempuran sebenarnya, bukan cuma latihan. Cita-citanya kesampaian pada 1944, Inggris menerjunkannya ke Belgia. Dari situ ia bergerak ke Belanda Selatan. Menurut buku De Zuid-Celebes Affairs, di Belgia itulah ia kali pertama merasakan perang sesungguhnya. Tapi, menurut Westerling sendiri, dalam Westerling, ‘De Eenling’ (Westerling, Si Penyendiri), perkenalan pertamanya dengan perang terjadi di hutan-hutan Burma.

Berkilau agaknya prestasi militer Westerling. Tapi entah mengapa ia meninggalkan satuannya, pasukan elit Inggris, dan masuk menjadi anggota KNIL. Ia lalu terpilih masuk dalam pasukan gabungan Belanda-Inggris di Kolombo. Pada September 1945, bersama beberapa pasukan, Westerling diterjunkan ke Medan, Sumatera Utara.

Tujuannya, menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli, dan membebaskan pasukan pro-Belanda yang ditawan. Ia berhasil.

Sebulan kemudian tentara Inggris mendarat di Sumatera Utara, dan entah bagaimana Westerling bergabung dengan pasukan ini. Tugasnya, melakukan kontraspionase, demikian kata buku Westerling, De Eenling. Itu makanya di Medan ia mengkoordinir orang-orang Cina, membentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT). Pertengahan tahun 1946, ia dikirim ke Jakarta.

Di KNIL, karier militer Westerling menanjak cepat. Mulanya, ia hanya seorang instruktur. Tak lama, pada usia 27 tahun, Letnan Satu Westerling diangkat sebagai Komandan Depot Speciale Troepen (DST), Pasukan Para Khusus Belanda. Pasukan inilah yang ditugaskan ke Makassar, untuk membantu Kolonel De Vries mempertahankan kekuasaan Belanda. Pada 5 Desember 1946, ia tiba di Makassar. Belum seminggu di tempat baru, ia sudah membuat teror yang menggemparkan. Kampung dikepung, dihujani mortir. Rumah-rumah dibakar habis. Penduduk dikumpulkan, dibantai. Dan para anggota pergerakan kemerdekaan disiksa, sebelum dihabisi dengan biji-biji peluru.

Empat bulan teror, perlawanan penduduk mereda. Anehnya, rakyat mengelu-elukan Westerling, mungkin karena takut. Ketika beranjak dari Makassar, kembali ke Jawa, konon, seseorang memberikan kenang-kenangan sebilah badik.

Dari Jagal ke Penjual Buku Bekas

Westerling ternyata memang berbakat menjadi jagal manusia. Di Bandung ia ikut kemelut politik Indonesia, untuk menyalurkan bakatnya membunuh. Lewat APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), ia memancing pertumpahan darah.

Tapi di Bandung pula ia memasuki hidup berumah tangga, menikah dengan wanita setempat, yang bernama Ivonne Fournier. Semua itu, APRA dan perkawinannya, dilakukannya sebagai orang biasa, setelah jabatannya sebagai Komandan DST dicopot oleh Panglima KNIL Jenderal Simon Spoor, di Batujajar, 21 November 1948.

Gagal dengan APRA, Westerling tak juga patah. Ia dan anak buahnya, menurut buku Westerling yang ditulis Supardi, sering mengadakan pertemuan di Nite Club Black Cat di Jalan Segara (sekarang Jalan Veteran 1), Jakarta. Mereka menggunakan pabrik besi Nyo Peng Liong sebagai tempat merakit senjata. Sedangkan dana ia peroleh dari sejumlah perkebunan di Jawa Barat, bantuan seorang yang bernama Jungschlager (orang ini diduga anggota Nefis, Dinas Intelijen Militer Belanda), juga pampasan perang dari Jepang.

Kamis, 23 Februari 1950, pukul 10 pagi Letnan Sanjoto mendapat informasi bahwa Westerling berada di Pelabuhan II Tanjung Priok. Sanjoto menugasi Letnan Kusuma dan Letnan Supardi, penulis buku itu, menangkap Westerling. Pukul 19.00 mereka mengendarai jip Willys, mendatangi Westerling. Rencananya, mereka akan mengajak ngobrol sebentar, lalu Supardi menembak Westerling, dan Kusuma meledakkan granat.

Aksi tak berjalan sesuai skenario. Sebelum rencana terlaksana, Westerling malah menghampiri mereka, mengajak minum bir. Mereka tak kuasa menolak. Tapi tugas tetap dilaksanakan: kedua letnan itu mengatakan kepada Westerling bahwa ia diharap datang ke markas Tanjung Priok sebentar.

Mereka berangkat dengan kendaraan masing-masing. Di tengah perjalanan Westerling dan anak buahnya memberondong mobil Kusuma dan Supardi hingga terbalik dan penumpangnya luka. Mayor Brentel Susilo dan Letnan J.C. Princen, yang menguntit jejak Westerling, ganti mengejarnya.

Tapi terlambat, hari itu juga Westerling terbang ke Singapura dengan pesawat Catalina yang diduga telah dipersiapkan sebelumnya.

Di Singapura Westerling sempat ditangkap Inggris. Tapi kemudian ia bisa berangkat ke Belanda, Agustus, tahun itu juga. Nasibnya di luar medan perang bisa dibilang buruk. Ia mencoba bergerak di bidang percetakan, gagal. Pernah juga ia mencoba menjadi penyanyi opera, belajar menyanyi di Jerman, gagal lagi.

“Saya jual buku saja,” katanya suatu ketika. Dan akhirnya memang ia hidup sebagai pedagang buku bekas. Westerling nyaris terjun ke kancah perang lagi. Ia sempat membikin dua memorandum yang isinya mendorong agar Eropa (termasuk Belanda) berperang menghadapi Vietkong. Tak ada yang menanggapi. Menjelang perebutan Da Nang, Juli 1965, seseorang menghubunginya, menawarinya melatih pasukan Vietkong. Kabarnya, Westerling hampir berangkat bila tidak dicegah pemerintah Belanda.

Westerling memang khas tentara bayaran. Ia tampaknya tak pernah berpikir untuk siapa dan untuk apa dia menembak. Hingga saat-saat terakhirnya, sejauh diketahui, Westerling belum pernah mengaku bersalah atas terornya di Indonesia. Yang dilakukannya, katanya, adalah melindungi rakyat.

Si jagoan Kaptein de Turk (julukannya karena ia berdarah Turki) akhirnya ‘ditaklukkan’ bukan di medan perang, tapi di medan ilmu. Sejarawan De Jong melalui bukunya membuka kembali masa lalu De Turk, dan membuat penyakit jantungnya kambuh.

Sisi Gelap Pemberontakan Westerling

BARU-BARU ini sejarawan Universitas Leiden, Cees Fasseur menulis biografi Ratu Belanda Juliana dan suaminya Pangeran Bernhard. Buku itu berjudul Juliana & Bernhard; het verhaal van een huwelijk, de jaren 1936-1956 (Juliana & Bernhard; Cerita tentang Sebuah Perkawinan, 1936-1956) (Amsterdam: Balans, 2009).

Sebelumnya Fasseur juga telah menulis biografi Ratu Wilhelmina, ibunda Ratu Juliana, yaitu Wilhelmina: krijgshaftig in een vormeloze jas (Wilhelmina: Si Pemberani Dalam Mantel tanpa Model) (Amsterdam: Balans, 2001).

Rupanya ada bagian dalam narasi biografi Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard itu yang mengganjal hati beberapa pihak di Belanda, yaitu menyangkut peran sekretaris sang Pangeran yang bernama I. Gerrie van Maasdijk (1906-2004).

Gerrie adalah seorang wartawan liputan perang untuk surat kabar De Telegraaf yang kemudian menjadi sekretaris Pangeran Berhnard (1911-2004). Pada 1956 Gerrie dipecat sebagai sekretaris sang Pangeran karena perbedaan pendapat yang sangat tajam antara keduanya.

Narasi yang agak miring tentang Gerrie dalam buku Fasseur telah mengundang kritik keluarganya. Hal itu telah mendorong pula Jort Kelder (seorang wartawan) dan Harry Veenendaal (seorang sejarawan) melakukan penelitian lanjutan untuk meluruskan sejarah — meminjam istilah yang sedang tren di Indonesia — tentang Gerrie van Maasdijk, sekaligus untuk menanggapi buku Fasseur.

Akhir November lalu, Jort dan Harry meluncurkan bukunya yang berjudul ZKH: hoog spel aan het hof van Zijne Koninklijke Hoogheid. De geheime dagboeken van mr. dr. I.G. van Maasdijk (ZKH: Permainan Tingkat Tinggi di Istana Kerajaan yang Mulia. Rahasia Buku Harian Mr. Dr. I.G. van Maasdijk) (Amsterdam: Gopher BV, 2009), sebagai tanggapan atas buku Fasseur.

Seperti dapat dikesan dari judulnya, bahan utama ZKH adalah buku harian Gerrie van Maasdijk. Jort dan Harry juga melakukan penelitian yang intensif terhadap surat-surat korespondensi antara Gerrie dan Pangeran Bernhard dan pihak-pihak lain, serta surat-surat korespondensi Pangeran Bernhard sendiri.

Kudeta Soekarno

Buku ZKH langsung menjadi sorotan media dan menjadi topik diskusi di Belanda, karena berhasil mengungkapkan manuver politik keluarga Kerajaan Belanda di Indonesia di tahun 1950-an yang selama ini belum terungkap.

Jort dan Harry menyimpulkan bahwa Pangeran Bernhard, salah seorang pendiri The Bildelberg Group (1954) yang berambisi agar bangsa kulit putih tetap memegang kendali di dunia ini, pernah merencanakan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada 1950, menyusul kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Rupanya sang Pangeran berambisi menjadi Raja Muda (viceroy) di Indonesia, seperti halnya Lord Mounbatten yang menjadi viceroy di India pada akhir 1940-an. Tujuannya tentu untuk melanggengkan kekuasaan penjajah Belanda di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam surat-surat korespondensi Pangeran Bernhard, antara lain dengan Jenderal USA Douglas MacArthur.

Buku Jort dan Harry cukup menjadi bahan pembicaraan masyarakat Belanda. Bahkan, pemerintah Belanda juga bereaksi terhadap temuan sejarah yang baru yang diungkapkan dalam buku itu.

Westerling

Buku ZKH mengungkapkan kemungkinan hubungan erat tindakan kudeta gagal yang dilakukan Kapten Raymond Paul Pierre Westerling di Bandung dengan ambisi politik Pangeran Bernhard itu. “Bernhard wilde coup in Indonesië (Bernhard menginginkan ada kudeta di Indonesia),” tulis harian Nederlands Dagblad edisi 30 November 2009. Kudeta yang dilakukan Westerling jelas ingin merongrong kekuasaan Presiden Soekarno yang baru seumur jagung.

Di antara dokumen-dokumen yang terkait dengan Pasukan Elite Kepolisian Marsose (Maréchaussée) yang diteliti oleh Jort dan Harry juga ditemukan petunjuk bahwa staf Pangeran Bernhard pernah mengontak Kapten Westerling di Indonesia.

Oleh karena itu, kuat dugaan bahwa kudeta yang dilakukan Westerling di Bandung (Januari 1950) yang mengerahkan Resiment Speciale Troepen (RST) dan melibatkan Sultan Hamid II adalah gerakan militer yang ada kaitannya dengan ambisi Pangeran Bernhard untuk menjadi raja muda di Indonesia. Kudeta itu sendiri gagal, walau 94 anggota pasukan TNI di Bandung sempat dibunuh dengan kejam oleh Westerling dan anak buahnya.

Konspirasi Pemerintah Belanda dengan berbagai cara untuk menyelamatkan Westerling dari tuntutan Pemerintah Indonesia sampai ia berhasil lolos ke Singapura pada Februari 1950 seolah memperkuat dugaan Jort dan Harry bahwa kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Westerling mungkin disetir Belanda. Sangat naif jika kudeta itu hanya dianggap sebagai tindakan kejam yang dilakukan oleh sekelompok tentara desersi. Meminjam judul buku Jort dan Harry, sangat mungkin ada “permainan tingkat tinggi” antara “istana kerajaan Yang Mulia” di Den Haag dan Westerling di Indonesia.

Kebenaran sejarah

Sampai sekarang masih banyak bagian dari sejarah kelam kolonial Belanda di Indonesia yang belum diungkapkan. Syukur bahwa di Belanda, dengan tradisi akademiknya yang bebas, penelitian ke arah itu terus berlangsung.

Laporan dalam De Excessenota yang disusun secara terburu-buru dan disampaikan oleh Perdana Menteri Belanda Piet de Jong pada Juni 1969 perlu disempurnakan. Dalam laporan itu dicatat sekitar 140 kejahatan yang dilakukan militer Belanda di Indonesia pasca-1945, tetapi dengan angka-angka statistik yang diperkecil. Fasseur pernah mengusulkan agar laporan itu ditulis ulang karena banyak mengandung manipulasi.

Pengadilan Kejahatan Internasional (International Criminal Court) berada di Den Haag, Belanda. Pengadilan itu akan terasa sedikit main-main jika negara Belanda sendiri tidak berusaha mengungkapkan kejahatan-kejahatan perang yang pernah mereka lakukan di Indonesia.

CATATAN LAIN AKSI WESTERLING

“Perdjurit2 TNI jang sedang ber-djalan2 di kota dengan tidak bersendjata, dibunuh seperti andjing dan di-tjinjang2 air mukanya seperti terjadi dengan almarhum Overste Lembong”

R.Soenario – Jaksa Penuntut Jungschlager (Rekan Westerling)

 

Sulawesi – Jawa Barat

Suatu siang di tanggal 23 Januari 1950, Bandung mengalami peristiwa yang menggemparkan bagai petir di siang bolong. Sekitar 500 pasukan yang menyebut dirinya Angkatan Perang Ratu Adil menyerbu Bandung dan menimbulkan banyak korban. Pemimpin dari kekacauan tersebut tidak lain adalah Westerling.

Sebelumnya, Bangsa Indonesia pertama kali mengenal Westerling melalui peristiwa “banjir darah” di Sulawesi Selatan tahun 1946. Saat itu tepat saat pemerintah tengah mengadakan konferensi Denpasar, Westerling beserta pengikutnya melakukan pembantaian terhadap 40.000 rakyat dan pemuda Indonesia di Sulawesi Selatan. Rumah-rumah dan kampung-kampung ikut dibakarnya.

Para pengikutnya merupakan orang-orang pilihan yang disebut dengan Pasukan “De Turk”. Nama itu juga merupakan julukan bagi Westerling yang memiliki darah Turki dari Ibunya. Oleh karena itu, ia dapat leluasa mengaku sebagai orang Islam, dan nantinya akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan gerakan DI di Jawa Barat.

Sifat kejinya sangat membekas di masyarakat Sulawesi Selatan sehingga ada kisah bahwa sebagai seorang “Scherpschutter” atau penembak jitu, kadang-kadang Westerling iseng berkeliling dengan jeepnya, dan ketika melihat pemuda yang dicurigainya, ia dengan mudah menembakkan revolvernya kepada pemuda tersebut.

Saat pemerintah Indonesia baru sadar akan perbuatan Westerling tersebut, pemerintah Belanda langsung menarik “pasukan tengkorak” tersebut dari bumi Sulawesi Selatan. Mereka seakan-akan menghilang tanpa bekas, walau sebenarnya Belanda masih menyembunyikannya dengan tujuan menimbulkan kekacauan di Negeri Indonesia yang masih rapuh saat itu.

Beberapa saat setelah aksi militer pertama, nama Westerling tiba-tiba muncul di Jawa Barat. Pasukan-pasukannya yang khas dengan baret hijau-merah mulai terlihat di pelosok-pelosok Jawa Barat,  bersiap mengacaukan republik. Namun aksi mereka baru dimulai setelah aksi militer Belanda kedua. Saat itu mereka memulai pembunuhan besar-besaran di daerah Citarum, namun di Jawa Barat mereka tidak menghadapi rakyat yang tidak berdaya seperti di Sulawesi. Di Jawa saat itu masih ada kekuatan TNI, Laskar2 dan Pemuda2 yang siap membalas apabila diserang.

Melihat perlawanan yang cukup sengit, Westerling merubah taktiknya. Kalau dulu ia lebih banyak beraksi secara langsung, kini aksinya lebih kepada memberi dukungan kepada para pengacau seperti golongan KNIL yang kecewa hingga gerombolan2 DI Kartosuwiryo. Aksinya tentu merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah Belanda. Namun di saat infiltrasi ini telah berjalan, Belanda seakan ingin lepas tangan dengan memberhentikannya sebagai kapten KNIL. Dengan demikian ia menjadi semakin bebas dalam melaksanakan aksinya.

Tanggal 23 Januari 1950, pasukan Westerling bergerak dari jurusan Cimahi dengan menggunakan truk, jeep, motor, ada pula yang berjalan kali. Mereka smua berseragam dan bersenjata lengkap, jumlahnya kurang lebih 500 orang.

Di sepanjang jalan Cimahi-Bandung, diadakan stelling di gang-gang, dimana-mana dilakukan teror melalui tembakan ke langit dan rumah-rumah penduduk. Pos-pos polisi di spanjang jalan raya seperti Cimindi, Cibereum dan beberapa lainnya dilucuti. Perlu diingat bahwa kondisi Jawa barat saat itu masih belum kondusif karena tengah dilanda masalah negara Pasundan.

Sesampainya di kota, mereka menimbulkan kepanikan di kalangan rakyat. Toko-toko ditutup, jalan-jalan pun menjadi sepi, tidak ada orang yang berani keluar rumah. Di perempatan Banceuy, seorang perwira TNI yang mengendarai Jeep dan tidak bersenjata disuruh turun, kemudian ditembak mati. Mayatnya ditinggalkan dan mereka jalan terus. Saat itu TNI tidak berani melawan karena mereka kira pasukan Westerling sebagai pasukan KNIL yang legal melalui seragamnya.

Di jalan Braga, tepatnya di depan apotik Rathkamp, sebuah auto sedan diberhentikan. Tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang diantaranya merupakan letnan TNI. Tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri ditepi jalan sebelum ditembak mati. Di depan hotel Preanger, sebuah truk berisi 3 orang TNI diberondong tembakan. Truk terpelanting menabrak tiang listrik sehingga tumbang. Di jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama kurang lebih 15 menit. 10 orang mayat TNI bergelimpangan di Jalan. Di perempatan Suniaraja-Braga, 7 orang TNI tidak bersenjata yang mengendarai pickup ditembaki dari depan dan belakang.

Pertempuran agak hebat terjadi di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi Jalan Lembang. Satu rgu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Overste Sutoko dengan tiba2 dikerubungi oleh ratusan APRA. Pertempuran berlangsung kurang lebih setengah jam. Pertempuran dilakukan hingga peluru terakhir. Everste Sutoko, Abimanyu, dan seorang opsir lainnya dapat menyelamatkan diri, lainnya tewas. APRA kemudian berhasil menduduki stafkwartier dan membongkar brandkast yang isinya Rp. 150.000, jumlah yang cukup besar untuk saat itu. Selain itu, mayat-mayat dari TNI dan sipil pun bergelimpangan antara jalan Braga hingga jalan Jawa. Di antara orang-orang sipil yang tewas, kabarnya menjadi korban karena mereka berani menjawab “Jogja”, ketika ditanyakan “Pilih Pasundan atau Jogja?” oleh pasukan APRA.

Total korban akibat penyerangan Westerling di Bandung mencapai 71 orang dengan 15 orang diantaranya anggota TNI. Diantara korban adalah seorang kapten, yang diculik pasukan Westerling dibawah pimpinan Eddy Hoffman ke hutan di barat Gunung Tangkuban Perahu, dimana 2 orang digantung diatas pohon, sedangkan lainnya ditusuk2 dengan bayonet hingga mati, lalu mayatnya ditinggalkan yang kemudian dimakan binatang2 liar.

Mengapa APRA tidak mendapat perlawanan berarti, pertama adalah karena serangan dilakukan dengan sangat tiba-tia, pembalasan tembakan pun tidak dilakukan karena orang-orang APRA bercampur dengan orang KNIL dan KL. Sedangkan mengenai latar belakang aksinya, diduga keras bahwa APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, supaya negara ini bisa berdiri tanpa gangguan TNI dan menggunakan APRA sebagai angkatan perangnya.

Westerling – Brenda Mcleod

Pada tahun 1954, telah dihukum mati seorang perempuan yang bernama Brenda Mcleod. Seorang perwira Jepang mengenali dia di masa pendudukan Jepang di Bandung telah membuka tabir dari kegiatan perempuan itu. Pada jaman Jepang, Brenda berperan sebagai mata-mata Amerika Serikat di nusantara. Brenda adalah cucu dari Matahari, spion yang terkenal dari Jerman pada perang dunia pertama. Ia mati di tangan regu tembak Perancis.

Dalam satu percakapan antara Brenda dan Westerling, Brenda pernah mengatakan “Kau bertindak seperti kerbau , Keberanian kau hanya keberanian kerbau. Untuk mencapai tujuan yang kau cari di Indonesia, diperlukan pengetahuan politis yang mahir mengenai situasi di Indonesia. Dan kau tidak mengerti apa2 tentang politik”. Intinya Brenda ingin menyatakan bahwa aksi Westerling lebih merugikan daripada menguntungkan pihak Belanda dan bahwa serangan terhadap Bandung lebih baik diundurkan karena semangat kemerdekaan bangsa Indonesia masih meluap-luap dan secara politis aksi tersebut tak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi apa mau dikata, nasihat ini tidak diindahkan Westerling.

Westerling – Wiranatakusumah – Kartosuwiryo

Pada tanggal 14 April 1948, R.A.A. Wiranatakusumah diresmikan sebagai kepala negara Pasundan. Ia mendapati tugas yang cukup berat untuk menyelesaikan segala kekacauan di bumi Jawa Barat seperti DI dan tindaan makar lainnya. Berdasarkan kesaksian Haris Bin Suhaemi dalam sidang Jungshlager (anak buah Westerling), tahun 1949 sempat terjadi perundingan di gedung Pakuan yang dihadiri oleh Kartosuwiryo, Wiranatakusumah, Kapten Westerling, Sapei, A. Tjokroaminoto dan Male Wiranatakusumah. Perundingan ini dilanjutkan lagi pada Januari 1950 di Hotel Preanger yaitu antara lain dihadiri oleh Wiranatakusumah, Westerling, Jungschlager dan beberapa pembesar Belanda lainnya.

Pertemuan inilah yang nantinya akan menghasilkan keputusan antara lain serangan umum terhadap Pemerintah R.I. yang dilakukan oleh pasukan Westerling dan DI/TII pada suatu ketika. Bandung dan beberapa kota besar di Jawa Barat harus diduduki.

Akan tetapi serangan tersebut tidak dapat berjalan sesuai rencana karena perhubungan yang sulit ditambah persenjataan yang kurang, oleh karena itulah diputuskan bahwa : Penyerangan Bandung dilakukan oleh APRA dibawah Westerling, sedangkan penyerangan kota2 Sukaraja dan Tasikmalaya Selatan oleh DI/TII. Saat itu telah ada persetujuan, bahwa apabila serangan APRA berhasil, maka daerah Jawa Barat akan dijadikan daerah de fanto pertama dari NII.

Mengenai peran Wiranatakusumah dalam hal ini, sy tidak mengetahui pasti. Tapi pada dasarnya beliau merupakan seorang yang mendukung penyatuan Jawa Barat ke dalam pangkuan RI, terlihat dari kenyataan bahwa sebelum menjadi wali negara Pasundan, beliau merupakan ketua DPA Pemerintah RI di Jawa Barat. Selain itu semua anak-anaknya mengabdikan diri pada republik, dua di antaranya memiliki kedudukan sebagai komandan TNI. Dalam membuat kebijakan pun ia harus selalu mendapat persetujuan dari residen sokongan Belanda.

Westerling – Prof. Raymond Kennedy

Setelah aksi APRA berhasil ditumpas, munculah gerakan-gerakan subversif lain semacam NIGO, White Eagle dan lain2. Mereka melakukan kegiatan teror untuk melemahkan negara. Berhubungan dengan kegiatan mereka adalah pembunuhan atas wartawan Time dan Life, yaitu Bob Doyle dan Proffesor Raymond Kennedy dari Universitas Yale. Saat ini kita bisa menemukan makam sang Profesor di kompleks pemakaman Pandu.

Wartawan Alexander Marschack dalam “The Unreported war in Indonesia” menerangkan mengenai pembunuhan kedua warga AS tersebut.

Menurut wartawan tersebut, pembunuhan dilakukan karena Prof. Kennedy mengetahu banyak mengenai kejahatan Belanda. Sang profesor diketahui baru saja menulis mengenai kritikan pedas terhadap Belanda, sedangkan Bob Doyle baru saja datang.

Maka Prof. Kennedy menjadi incaran agen Belanda. Keduanya dibunuh saat mengendarai jeep, badan kedua korban digeledah lalu segala dokumen yang ada dirampas. Tetapi catatan yang berkaitan dengan Bob Doyle tidak ikut dirampas, oleh karenanya Alexander Marschack dapat memakai bahan tersebut untuk investigasi.

Pembunuh kedua orang tersebut adalah 6 orang pasukan KNIL suku Ambon, yang bertugas menjaga keamanan antara Sumedang dan Cirebon. Sedangkan peristiwanya terjadi di bulan april 1950 antara desa Cimalaka dan Tomo.

Pasca kejadian kejadian Bandung, pasukan APRA dibawah tanggung jawab Jendral Engels melarikan diri ke hutan-hutan dan melakukan gerilya. Westerling sendiri berhasil kabur ke Belanda setelah sebelumnya sempat pula terlibat dalam perencanaan pembunuhan Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta yang melibatkan Sultan Hamid.

Pembantaian Westerling Direstui

nederlandsindiecom-knilAksi pembantaian yang dilakukan Kapten Westerling ikut diketahui oleh Kolonel De Vries. “De Vries sendiri hadir dalam salah satu pembantaian. Dia lalu muntah-muntah meninggalkan lokasi,” kesaksian Groenendaal, salah satu prajurit komando anak buah Westerling.

Pejabat tinggi lainnya juga mengetahui aksi pembantaian itu. Pada awal 1947, menyusul laporan mengenai aksi pembantaian Westerling di Sulawesi itu, digelar rapat di mana Direktur Kabinet P.J. Koets, Jaksa Agung H.W. Felderhof, Direktur Urusan Umum P.J. Idenburg dan Direktur Departemen Delam Negeri dr. W. Hoven hadir di situ.

Menurut Koets, juga dikonfirmasi oleh Idenburg, dalam rapat itu diputuskan untuk tidak melegitimasi metode pembantaian Westerlingn. Namun aksi Westerling itu mendapat persetujuan dari semua pejabat tinggi yang hadir.

Dalam nota di kemudian hari, Jaksa Agung Felderhof menulis bahwa metode Westerling itu “diperbolehkan dalam situasi genting, yang dapat memaksa diterapkannya pengadilan dan eksekusi tanpa proses hukum,”

Westerling dipercaya penuh mampu untuk mengendalikan diri dalam batas-batas tertentu. Namun, perwira-perwira lainnya dalam rapat itu tidak diperbolehkan melakukan tindakan atau aksi seperti dilakukan oleh Westerling.

Westerling’s War

For many Indonesians, Captain Raymond Westerling remains the most notorious Dutch military figure from the young republic’s war of independence. With a Dutch director now planning to make a film about Westerling’s rampage in South Sulawesi, a closer look reveals a multifaceted man who continues to symbolize a thorny episode in Indonesian–Dutch history. Lina Sidarto reports.

The name Westerling still evokes images of evil and inhumanity for most Indonesians raised on history textbooks that describe the violence committed by the Dutch officer against people in various parts of the archipelago.

In his memoirs, he described an act of terror designed to subdue groups that had been attacking European soldiers in North Sumatra.

“We planted a stake in the middle of the village and on it we impaled the head of a Terakan [half-Japanese, half-Chinese inhabitant]. Beneath it we nailed a polite warning to the members of his band that if they persisted in their evildoing, their heads would join his.”

Dutch director Martin Koolhoven believes Westerling “is, of course, a very interesting person for a movie. There are still people now who adore him [in the Netherlands], while others see him as the personification of evil.”

While many Dutch films have been made about World War II, Koolhoven is currently working on a script for the first movie highlighting the years just after 1945.

“It’s not a period in our history that we can be most proud of,” he says. “It won’t be a biopic about Raymond Westerling, but a film about the men who served  under him in Indonesia.”

Producer San Fu Maltha describes the project as “the Dutch Apocalypse Now. It’s a story about the loss of innocence in a time of war.”

Despite the fact there are still many Indonesians alive today who witnessed the summary killings of family members and fellow villagers, and the name Westerling still elicits emotional reactions, Koolhoven hopes he will be able to shoot the film in Indonesia.

“While the subject matter may be sensitive, I don’t see why we can’t do it there,” he says.

“The Turk”

Raymond “The Turk” Paul Pierre Westerling did not have the usual Dutch upbringing. Born in 1919 in Istanbul, he was the son of a Greek mother and Dutch antique dealer whose family had lived there for generations. He and his sister Palmyre grew up speaking Greek, Turkish, French and English. In his memoirs he wrote, “One of the few Western European languages that I didn’t speak a word of [while growing up] was my ‘mother tongue’: Dutch.”

His yearning for adventure began at a very young age. At 7, he was already a good shot, Westerling said in his memoirs. When war engulfed Europe in 1941, he went to the Dutch consulate in Turkey and enlisted in the Dutch army, much to his family’s dismay.

Westerling trained as a commando under the British, but to his disappointment he was never commissioned to the front line. The lack of action during those initial years, however, would be more than made up for during his five years in the former Dutch colony of Indonesia.

His infamy precedes him 

Westerling first came to Indonesia in September 1945, landing in North Sumatra as part of the KNIL, the Dutch East Indies Armed Forces. Conditions there, as in much of Indonesia, were tense and chaotic. The Dutch were confronted with a very different place from the one they had lost three years before to the Japanese.

“The Dutch weren’t prepared for the Indonesian people’s powerful struggle for independence,” says Susan Legêne, political historian and Indonesia expert at Amsterdam’s Vrije Universiteit.

Westerling had a disdain for the authority of the Republic of Indonesia under Sukarno. “The formation of a republic in Java … simply means replacing Dutch rule with Javanese rule,” he wrote. “Out of these two, many prefer the Dutch.”

He also had little respect for the various youth groups striving for independence, regarding them as “terrorist gangs” who plundered, raped and murdered innocent civilians.

In a matter of months, he had built up a reputation for successfully routing those who were branded rogue elements by the Dutch authorities, sometimes using unorthodox methods such as his purge of the Terakan. In the book Westerling’s War, Dutch historian Jaap de Moor noted that by February 1946, British newspapers already carried stories about Westerling’s deeds.

“His fame as a fearless commando, a lone fighter for justice, was established,” De Moor wrote.

Westerling saw himself as a savior of the weak: “I couldn’t stand that one of the kindest and most pleasant people in the world were defenseless against the violence of the Javanese guerrillas and former collaborators, the militias who were  trained by the Japanese in carrying out savagery.”

Fighting terror with terror 

In November 1946, after earlier forming the DST (Special Forces Depot) commando group in Jakarta, Westerling was commissioned to South Sulawesi.

“Dutch authority in South Sulawesi was on the verge of an absolute breakdown,” De Moor wrote. “The authorities were confronted by the choice of abandoning the area altogether or destroying the enemy activity with whatever means they could employ. They chose the latter option and called in Captain Westerling and his commandos.”

And thus was born what would be known as the “Westerling Method”: commandos would surround a village at dawn and herd the residents into an open space. Men would be separated from women and children. Westerling would carry with him a list of suspected terrorists, gathered earlier through informants. He would call a name and, once identified, the man would be shot dead on the spot. Afterward, all present would have to swear on the Koran that they would not follow in the path of the “terrorists”.

In a 2007 TV interview, Haij van Groenendaal, one of the 123 commandos who served under Westerling in South Sulawesi, spoke of their first operation on Dec.  10, 1946.

“I was so shocked. I told Westerling, ‘We can’t do this!’ He said, ‘This is my assignment. If you know of any other way, I’ll do it.’ But there was no other way, he said.”

Westerling and his men pressed ahead with their summary executions, punishing suspected offenders without a formal trial. Van Groenendaal said higher-ups in the armed forces were fully aware of the situation: the Dutch military commander for Eastern Indonesia, Colonel De Vries, was present at one of the first operations “and went away retching”.

An official Dutch inquiry launched in 1969 into war excesses in the 1945-1949 period was clinical in its evaluation of Westerling’s method: “Gauging from a number of things, it seems that the overall actions of the DST under the command of Captain Westerling answered that which the highest civilian and military leadership had aimed to do with its deployment to South Celebes.”

When Westerling’s DST ended its operations in South Sulawesi in March 1947, the combined death toll it had racked up with other Dutch military units and local police over a three-month period was estimated at between 3,000 and 5,000.
Westerling’s unit itself was believed to be responsible for around 400 executions.

While Indonesian high school textbooks claim Westerling was responsible for some 40,000 deaths, most historians, including in Indonesia, doubt the veracity of the figure. Yogyakarta-based historian Petrik Matanasi puts the number of victims in South Sulawesi during that period “in the thousands, not tens of thousands”.

High treason with a tinge of blue blood?

A little less bloody but certainly not lacking in controversy was Westerling’s attempt on Jan. 23, 1950, to seize power from the Indonesian government. A recent book revealed he may have had a helping hand from the Dutch royal house.

Archival photos from 30 Tahun Indonesia Merdeka; Westerling family photos courtesy of Celia Veldhuis.Archival photos from 30 Tahun Indonesia Merdeka; Westerling family photos courtesy of Celia Veldhuis.

Westerling headed the DST between 1946 and 1948. While deemed effective, his notoriety led to growing public criticism and an official inquiry by the Dutch government in April 1947.

He was relieved of his duties in November 1948, although he enjoyed the continued respect of his colleagues and superior officers. He settled down in West Java, starting off his civilian life with a family and a business.

This was not, however, the end of his armed conquests. He slowly put together an armed movement comprising groups opposed to the impending official transfer of power from the Dutch to the Republic of Indonesia under Sukarno. Westerling named his movement the Army of the Righteous Ruler, from the Javanese myth that a “righteous savior” would come to save the people of Java. The movement included indigenous former KNIL soldiers and West Javanese militias seeking to establish their own state.

The coup, attempted just a month after international recognition of the Republic of Indonesia, claimed dozens of lives from both sides and failed miserably. In his book Westerling: The Failed Coup, Matanasi wrote, “The coup was without vision.

Preparations for it were far from perfect. Westerling did not even properly address the question of arms.”

While the Dutch government officially condemned the coup, they still helped smuggle Westerling out to Singapore and eventually back to the Netherlands via Belgium.

Six decades later, the botched coup attempt again received widespread media attention in the Netherlands with the release in November 2009 of a book by historian Harry Veenendaal and journalist Jort Kelder. The book, Z.K.H., Dangerous Game at the Court of His Royal Highness, suggested that Prince Bernhard, Queen Juliana’s husband, had played a part in Westerling’s intrigues.

While the authors stressed the prince’s links to the move remained unclear, his name cropped up time and again in various documents on the failed coup.

War criminal?

While categorically denounced as a war criminal by the likes of Legêne and Nico Schulte Nordholt, an Indonesia expert from Twente University, and chastised in two official inquiries, Westerling was still let off the hook by the Dutch government.

“The fact is his actions had the tacit approval of the highest authorities,” Nordholt says. “And in the eyes of the Dutch authorities, he was successful at the time. Very cruel, but effective.”

In a sort of wicked irony, Nordholt points out, the Indonesian Military channeled Westerling’s DST when it established its Special Forces, or Kopassus. “Westerling’s actions formed the model for Kopassus and how it would operate in rebel territory.”

In 1949, the Dutch–Indonesian agreement on transfer of power stipulated neither country would call the other on its wartime offenses, Legêne and Nordholt point out, thus ruling out any attempt by Indonesia to press for Westerling’s extradition.

Picking up the pieces in the Netherlands

Even among the most notorious of historical figures there is always another, more human side, cherished by friends and relatives. In Westerling’s case, his children and grandchildren remember him as a kind albeit complicated and tormented man.

Once back in the Netherlands, Westerling settled down with his Indonesian–French wife, Yvonne Fournier, in a small town in the state of Friesland. Their first child, Celia Veldhuis, born in 1948 in West Java, says the ghosts of war continued to haunt him.

“Father had to work through his war experiences during our childhood, though he never spoke a word about those times,” the soft-spoken Veldhuis recalls. “There was no support, no counseling like there is now. He always had headaches, probably from the shrapnel still lodged in his skull. He slept badly. He drank a lot from time to time.”

Money was tight, and they lived in a small house. Veldhuis describes Westerling as “restless and erratic, yet also warm and caring”.

“When my mother was taking courses to become a hairdresser, he was the one who took care of the household: washing, cooking, taking care of the children,” she says.

Westerling later studied singing at the Amsterdam conservatory. His debut as a tenor in Puccini’s Tosca in the city of Breda in 1958, however, was a flop.

“He was so nervous. He knew all eyes were on him,” Veldhuis remembers.

Westerling later divorced and remarried, and ran an antique book store in Amsterdam. He died of heart failure in 1987.

Throughout his life, he continued to defend his past actions and vehemently denied any accusation of war crimes.

“He was so disappointed with how the government had treated him,” Veldhuis says. “He served his country, and after that he became its scapegoat. He had to struggle just to get his meager soldier’s pension.”

Although she says her relationship with her father was often difficult, she remains adamant about one thing: “I never saw him as a murderer. He was put into a situation where the rules were different, and he had to do things that went against his character.”

Illustration by Lucynda Gunadi